My 2013 list in a (very) short recap

1. 15 minutes of fame?

Arya Wiguna and Vicky Prasetyo.

2. The evolution of Sinetron since Tersanjung (or Cinta Fitri)

Tukang Bubur Naik Haji. 

3. A great loss, you will be missed:

Nelson Mandela.

4. This one is great, but hey why everyone put attention at the other one?

When *NSYNC reunion got less attention than Miley Cyrus’ twerk moment.

5. Fresh (not new) international musician you should check out:

Here is the most comprehensive list I found so far.

6. Indonesian musician’s album you should buy this year:

Pandai Besi, Semak Belukar, Sore, and Tigapagi. Why? Here,  here, here, and I guess more to come about them in the very next day.

7. Most-underated (but find a lot of good review about this) film this year:

Frances Ha.

8. The world’s most awaited moment:

Prince George birth.

9.The most eccentric world citizen

The poorest president who made his country to be Country of The Year.

10. The faith-in-humanity-recharge

Long live, Pontifex!

11. You Go, Sir!

Ridwan Kamil and Basuki Tjahaja Purnama.

12. Hypest sport in town:

Running.

Cerita Akhir Pekan

Akhir pekan adalah waktu yang baik untuk merapikan rumah, terutama kamar. Begitu kata ibuku sewaktu aku kecil. Berawal dari akal-akalan ibu untuk mengajakku membantunya mengerjakan tugas rumah tangganya, kini itu telah menjadi kebiasanku. Aku sebenarnya selalu malas melakukannya, namun aku lebih malas mendengar ibu mengomel. Lelah badan setelah membereskan kamar masih lebih baik daripada panas telinga dan tak enak hati setiap kali dimarahi ibu. Lagi pula, aturan dasar rumah tangga menyebutkan Ibu selalu benar. Jika ibu salah, kembalilah ke aturan dasarnya.

Empat tahun, aku tinggal di indekost selama kuliah. Empat tahun tugas membersihkan kamar pindah tangan ke Mbok. Mbok sangat rajin membersihkan kamarku, lebih rapi dariku pula. Namun, ada satu bagian yang tidak boleh disentuhnya dari kamar ini. Hari ini aku merapikan bagian kamar yang sudah lama tak tersentuh itu. Bagian itu adalah meja belajar di pojok ruang kamarku. Selama kuliah aku tidak lagi menggunakan meja belajarku dari semasa bangku sekolah dasar. Meja belajar itu kini menjadi tempat aku menyimpan buku, majalah, alat tulis, dan segala benda dari masa sekolah. Segala bentuk kenangan dari masa kecilku. Di bagian bawah meja belajar ada sebuah kardus. Aku lupa tepatnya apa isinya. Aku pun menarik keluar kardus tersebut dan

“Hatchi!”

Lama tak tersentuh, kardus itu telah diselimuti oleh debu yang amat banyak. Aku mulai membuka penutupnya, kemudian melihat apa isinya. Namun, belum ada beberapa menit, aku menyerah keluar kamar. Debu-debu sialan! Aku bengek!

Ibuku yang kebetulan lewat depan kamarku pun malah menertawaiku terlebih dahulu. Oh ibu! Nafasku makin tersengal-sengal, cenderung memendek. Sadar anaknya benar-benar sesak napas, ibu pun bergegas mengambil inhaler dan memberikannya kepadaku. Fyuh. Perlahan paru-paruku mulai mengembang kembali. Ibu pun menyuruhku mengambil vacuum cleaner jika aku masih berniat untuk membereskan meja belajarku. Kenapa juga ide ini tidak terpikir olehku sedari sebelumnya?

Aku pun mengambil vacuum cleaner. Aku pasang masker muka sekali pakai dan mulai membersihkan semua debu dengan vacuum cleaner. Satu per satu. Setelah berkurang debunya, aku pun mulai merapikan benda-benda di meja belajar. Terakhir yang tesisa adalah sebuah kardus. Aku pun membuka kardus, di tumpukan paling atas di dalamnya terdapat  berbagai kaset. Paling atas darinya adalah sebuah kaset 90 menit bertuliskan, “Belajar Bahasa Inggris dengan Kak Ika”. Aku pun membuka dan mengambil isinya, kemudian mencobanya di walkman Aiwa lamaku. Wah, masih bisa. Suaraku masih kanak-kanak sekali. Sementara, suara Kak Ika keibuan sekali. Kak Ika adalah guru favorit yang pernah aku miliki. Dia mengajar privat bahasa Inggris di sore hari, sementara pagi hingga siang hari dia kuliah. Kak Ika mengajar dari usiaku 5 hingga 9 tahun.

Kak Ika seorang yang sangat sabar. Dia tidak pernah marah, Kak Ika suka sekali mengumpulkan uang logam di dalam botol selai. Dia pernah memberiku satu botol uang logam. Sayang, aku kepepet waktu itu, uangnya aku pakai untuk beli CD Westlife.

Sekarang aku sudah tidak pernah bertemu dengannya, terakhir kali kami bertemu dia mengantarkan undangan pernikahannya. Saat itu aku masih duduk di bangku SMP. Beberapa tahun kemudian aku dengar dia bercerai dengan suaminya. Bulan kemarin ibu bertemu neneknya, pemilik toko bahan kue langganan ibu, yang bercerita cucunya masuk Rumah Sakit Jiwa karena depresi. Aku tidak bertanya lebih detail, ibu pun tidak pernah menjelaskan lebih lanjut. Mengetahui hal itu saja sudah terlalu pedih bagiku. Aku pun memberhentikan kaset yang belum selesai memutar percakapanku dengan Kak Ika. Aku memasukkan kaset tersebut ke tempatnya dan menaruhnya ke dalam kardus kembali. Aku kembalikan kardus ke bagian bawah meja belajar. Semuanya sudah lebih bersih dan rapi sekarang.

Tiba-tiba aku mendengar suara ibu dari luar kamar. Ibuku pun mengajakku untuk makan siang terlebih dahulu. Aku lihat ke jam dinding di kamarku. 12:15. Sekarang memang sudah jam makan siang. Aku pun menuju ke kamar mandi untuk ganti baju, mencuci tangan, dan mencuci muka. Begitu keluar aku bergerak ke meja makan. Di meja makan, ibu sedang menyiapkan makanan dengan bantuan Mbok.

Pandanganku berkeliling seperti biasa dan aku lihat ada surat kabar hari ini di kursi sebelahku. Aku pun membacanya sambil menunggu makanan selesai disiapkan. Aku buka halamannya satu per satu. Aku pun tiba di satu halaman, halaman yang paling jarang aku baca. Kali ini, mataku takbisa lepas memandang bagian bawah halaman tersebut yang membuatku hanya bisa bertanya-tanya dalam hati. Mengapa aku harus membereskan kamar hari ini? Mengapa aku mengambil kardus di bawah meja belajar? Mengapa aku memutar kaset itu? Mengapa aku  ingat dengan guru favoritku? Mengapa aku membaca surat kabar hari ini? Mengapa juga surat kabar hari ini harus memuat berita kematiannya?

Aku diam terhenyak. Tidak terasa air mata mengalir di pipiku. Paru-paruku rasanya kembali menyempit. Seketika ibu pun menghampiriku dan aku hanya bisa menjawab pelan,

“Ibu, mana inhalerku?”