Tentang Kawan Saya, Dion.

Saya sudah sangat lama sekali tidak menulis karena cidera tangan yang saya alami. Kemudian hari akan saya ceritakan detailnya. Sekarang saya ingin bercerita tentang hal lain.

***

Pada tahun 2012 saya bekerja di sebuah perusahaan pengolahan karet. Saya berhenti karena sebuah skandal di kantor antara atasan dan rekan kerja saya, yang mengakibatkan saya harus mengambil alih pekerjaannya, Saya muak, maka saya berhenti dengan alasan akan sekolah.

Pada saat yang sama saya mendapat tawaran bekerja di sebuah perusahaan konsultan HR di bilangan Kemang, atas tawaran pemilik langsung (yang notabene-nya psikolog ternama dan ibu seorang DJ ternama ibukota). Namun, masalah lain terjadi. Ketika hari saya seharusnya tanda tangan kontrak, bagian rekrutmen tetiba membatalkan untuk memperkerjakan saya. Hanya tatap muka sebentar dan minta maaf via sms beraninya. Bahkan pemiliknya pun tidak meminta maaf. Brengsek? Sangat.

Saya kecewa dengan dunia pekerjaan dan jadi pengangguran selama dua minggu. Setelah itu saya memutuskan untuk bekerja freelance untuk membuat verbatim, entry data, dan  berbagai bentuk kerjaan outsource lainnya. Saya tidak mau kerja kantoran lagi, pikir saya.

Sampai suatu saat saya mendapatkan tawaran pekerjaan dari senior (tiga tahun di atas) saya semasa kuliah di Psikologi. Senior saya bernama Ramadion Syam, biasa dipanggil Dion. Dia bekerja di perusahaan pendidikan bernama Zenius Education di divisi Commerce. Perusahaan startup berkembang, karyawan belum banyak, dan bidangnya pendidikan pula. Saya pun melamar dan diterima.

Januari 2013, saya memulai karir saya di bidang marketing dengan belajar menyusun strategi bisnis untuk  perusahaan pendidikan. Kaku di awal. Namun, Dion membantu saya dalam berbagai hal. Dia mengajarkan berbagai hal baru dan menyemangati saya di saat  ragu dengan kemampuan sendiri. Juga menghibur ketika saya punya masalah pribadi. Seiring waktu Dion pun menjadi atasan, pelawak satir, sekaligus kawan yang suportif.

Pada pertengahan 2013, istri Dion, Mimoy mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi di Tilburg. Mimoy pun pergi, sementara Dion tetap tinggal di Jakarta. Saya tidak menyukai hubungan romantis jarak jauh. Lack of physical existence, Saya tidak bisa membayangkan penghayatan yang dirasakan Dion juga Mimoy. Apa pun rasanya, pasti tidak menyenangkan. Saya sangat berharap mereka bisa berkumpul kembali.

Sebagai gambaran Dion dan Mimoy adalah pasangan yang menggemaskan. Secara fisik perawakan Dion tinggi besar, sementara Mimoy (kalau kata Dion) lebih mungil dari 80% populasi wanita dewasa seumurannya. Selama saya mengenal mereka, hubungan mereka tidak pernah ada drama rumah tangga. Mereka terlihat cukup dewasa dalam menjalani hubungan rumah tangga. Oke, ini sok tahunya saya.

Februari 2014 adalah bulan terakhir sebelum pengunduran diri Dion untuk menyusul Mimoy. Saya merasa sangat gembira, sekaligus sedih. Saya akan kehilangan rekan kerja sekaligus satu teman hura-hura yang biasanya saya temui hari Senin-Jum’at. Tugas kantor mulai beralih menjadi tanggung jawab saya. Nanti saya curhat pagi tentang urusan mau sekolah sama siapa? Kalau mau pamer hal yang tidak begitu penting sama siapa? Kalau mau marah tidak jelas harus mengadu ke siapa?

Ya tapi mau bagaimana lagi. Udeh terima aje.

Maret 2014 adalah bulan dimana saya naik jabatan (tambah kerjaan) menggantikan posisi Dion. Saya pun melihat menempati meja milik Dion. Aneh rasanya.

Pikiran saya kembali ketika awal masuk ke kantor ini. Awal dimana saya merasa tidak perlu ragu untuk berdebat dengan siapa pun selama argumen dan landasan berpikir saya rasional. Tidak ada menang atau kalah. Saya bisa bercanda mengenai hal yang SARA atau hal yang cabul tanpa takut pendapat orang lain pada saya. Dimana orang-orang menerima ketidakyakinan saya, terlepas dari apapun latar belakang kepercayaan saya. Di lain sisi orang-orang juga perhatian kalau saya tidak masuk, merasa marah atau tersinggung, atau terlihat lelah.

Kehidupan kantor dengan kegiatan bermain bersamanya sangat menyenangkan. Setahun kemarin, saya sudah belajar main Mahjong (iya yang dari China itu), main truf, mencoba ballet, hingga ikut latihan Muay Thai. Semua orang di kantor ini gila. Kegilaannya dalam tahap yang menyenangkan.

Semua kebahagiaan ini berawal dari tawaran Dion untuk bergabung di kantor. Pasti akan ada saat saya akan merindukan Dion, sementara Dion akan sibuk bermesraan dengan Mimoy dan proyek Ruang Psikologinya. Tujuan utama Ruang Psikologi sangat mulia, yaitu untuk mensosialisasikan ilmu psikologi dan manfaatnya dalam kemasan yang mudah cerna. Saya (dan juga teman-teman lain) sangat mendukung pilihan Dion, semoga dia bisa besar bersama Ruang Psikologi.

Terima kasih atas kerja samanya, Dion!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s