September’s Playlist: The Giving Tree

http://8tracks.com/mixes/4837052/player_v3_universal

The Giving Tree from gisca on 8tracks Radio.

Advertisements

Sistem Hitung Pilpres KPU

herisuryono's Blog

Sebelumnya perkenalkan saya Heri Suryono, salah satu staff admin sistem hitung KPU, bukan di tingkat pusat sih namun di tingkat terbawah di kabupaten/ kota. Sebagai perantau0 dari Magelang Jateng dan sudah 5 (lima) tahun saya mengabdi sebagai PNS di Pangkalpinang, Kep. Bangka Belitung,

To the Point di dalam pelaksanaan penyelenggaraan Pemilu DPR, DPD dan DPRD serta Pemilu Presiden dan   Wakil Presiden Tahun 2014 ini, KPU dalam mengamankan hasil pemilu menggunakan sistem penghitungan / SITUNG yang berbasis teknologi informasi sebagai kewajiban lembaga negara untuk transparansi informasi dan meningkatkan akuntabilitas data.

Di dalam pilpres 2014 yang hanya diikuti oleh 2 (dua) orang kandidat tentunya KPU sangat dituntut untuk netral apalagi hasil dari quick count saling diklaim oleh kedua pasang calon. Di dalam tulisan berikut ini akan saya share apa saja yang dilakukan di dalam SITUNG KPU.

  • Operator KPU Kab/ Kota akan melakukan scanning terhadap seluruh formulir C-1 ( Berita    Acara  Pemungutan dan Penghitungan Suara…

View original post 646 more words

Jadi 2014, pilih caleg yang mana?

Musim kampanye putaran pertama telah berakhir, sebentar lagi hari pemungutan suara. Sejujurnya saya agak malas dengan urusan Pemilu. Bayangkan, berbagai partai politik setelah 4 tahun adem ayem kemudian ada satu tahun semuanya berlomba-lomba meraih simpati. Ya elah situ pada kemane aje. Sayangnya kita hidup di negara demokrasi, kalau semua apatis ya gak ada yang berubah. Kalau sudah begini kasihan mereka yang memang mau mengabdi sama negaranya. Naif? Tentu saja.  Coba kita ingat zaman sekolah pasti ada saja kawan sekelas yang maju paling utama di berbagai kesempatan dengan semangat yang heroik. Belum lagi orang-orang biasanya aktif dan rajin bekerja. Sebagian dari mereka itu ya yang biasanya jadi pengurus OSIS, pengurus mesjid, atau forum-forum yang isi anaknya muda. Nah, soal pemilu juga pasti ada yang seperti itu dan mencalonkan diri jadi calon legislatif.

Banyak juga calon legislatif yang orangnya tai kucing. Jadi calon legislatif karena cari uang , batu loncatan karir di dunia politik, atau mau korupsi. Ya meskipun ada juga kayak Ridho Rhoma yang alasan pencalonan dirinya tidak jelas dan sangat tidak masuk akal, yaitu disuruh bapaknya. Ya elah. Nah, sebagai pemilik hak pilih, boleh sih apatis dan golput tapi kan ada baiknya kalau berusaha jangan sampai mereka yang terpilih. Caranya?

Cari tahu latar belakangnya! Repot? Sudah banyak orang baik hati dan rajin yang memuat berbagai informasi mengenai para calon legislatif di dalam blog dan situs, diantaranya:

http://www.checkyourcandidates.org/

http://www.jariungu.com/

http://bersih2014.net/

Tapi dari semua itu, yang paling lengkap dan komprehensif adalah dari rekomendasi teman saya Pras, yaitu

http://litsuscaleg2014.wordpress.com/

 

Sebaiknya jangan tidak menggunakan hak pilihmu, silakan mau coblos semua atau memihak kepada siapa pun.  Silakan tentukan yang menurutmu adalah pilihan paling bijak. 🙂

Telemarketing, Jagonya Bertele-tele

Ada banyak orang yang memiliki tabungan di bank di luar sana yang pernah menerima telepon penawaran berbagai produk dan jasa dari telemarketing. Namun, sebagian pasti sepakat tidak ada yang lebih gigih dari telemarketing asuransi. Ada saja jurus silat lidah yang digunakan untuk mengubah prospek menjadi konsumen mereka. Sayangnya, caranya sering kali sungguh menyebalkan.

Penjualan data nasabah adalah awal dari semuanya. Ya, nasabah yang kena getahnya. Saya sendiri paling sering dihubungi oleh nomor-nomor ini 089610312774, 08965388777, 08999666999, 089636688999, dan 02130485959. Saya pikir dengan diblok saja di telepon seluler dapat menghindari telepon dari mereka. Ternyata saya salah, suatu pagi hari atasan saya berujar bahwa mereka kadang bisa lolos dari block list jika menelepon dengan aplikasi tertentu. Siang harinya itu terjadi. Saat itu karena hafal nomor kontaknya saya tidak mengindahkan panggilan yang masuk.

Pertama kali saya menerima telepon dari telemarketing asuransi pada tahun 2011, waktu itu saya masih kuliah tingkat tiga. Saya sudah berpenghasilan saat itu, namun tidak seberapa (sampai sekarang pun belum seberapa juga, sih). Jadi saya bisa menjawab saya masih kuliah. Namun, yang menyebalkan  malah meminta nomor orang tua saya. Tentu tidak saya beri, sudah gila mungkin dia.

Frekuensi saya menerima telepon dari telemarkerting meningkat pesat semenjka saya memiliki tabungan Permata untuk keperluan payroll. Seminggu setidaknya dua kali dan penawarannya paling banyak asuransi, baru kartu kredit. Asuransinya adalah asuransi Cigna. Tawarannya sampai dibilang kalau misalnya saya setuju pakai asuransi mereka, saya tidak perlu repot transfer karena bisa langsung auto debet. Hahaha, makin gila. Tertarik saja tidak.

Salah seorang teman saya keceplosan bilang iya. Dia keceplosan bilang iya. Dia pun mengurus pembatalannya, namun biaya potongan awal tidak dapat kembali. Nasib.  Saya tidak habis pikir, berapa banyak orang yang bernasib sama sehari-harinya, ya?

Saya yakin, di luar sana ada banyak orang yang bernasib serupa dan bahkan mengalami hal yang lebih tidak enak dari ini. Saya juga tahu telemarketing bekerja untuk cari uang. Namun, jelas apa yang mereka lakukan adalah bentuk pelanggaran privasi yang terorganisir yang tentunya….

Sungguh menyebalkan.

Tentang Kawan Saya, Dion.

Saya sudah sangat lama sekali tidak menulis karena cidera tangan yang saya alami. Kemudian hari akan saya ceritakan detailnya. Sekarang saya ingin bercerita tentang hal lain.

***

Pada tahun 2012 saya bekerja di sebuah perusahaan pengolahan karet. Saya berhenti karena sebuah skandal di kantor antara atasan dan rekan kerja saya, yang mengakibatkan saya harus mengambil alih pekerjaannya, Saya muak, maka saya berhenti dengan alasan akan sekolah.

Pada saat yang sama saya mendapat tawaran bekerja di sebuah perusahaan konsultan HR di bilangan Kemang, atas tawaran pemilik langsung (yang notabene-nya psikolog ternama dan ibu seorang DJ ternama ibukota). Namun, masalah lain terjadi. Ketika hari saya seharusnya tanda tangan kontrak, bagian rekrutmen tetiba membatalkan untuk memperkerjakan saya. Hanya tatap muka sebentar dan minta maaf via sms beraninya. Bahkan pemiliknya pun tidak meminta maaf. Brengsek? Sangat.

Saya kecewa dengan dunia pekerjaan dan jadi pengangguran selama dua minggu. Setelah itu saya memutuskan untuk bekerja freelance untuk membuat verbatim, entry data, dan  berbagai bentuk kerjaan outsource lainnya. Saya tidak mau kerja kantoran lagi, pikir saya.

Sampai suatu saat saya mendapatkan tawaran pekerjaan dari senior (tiga tahun di atas) saya semasa kuliah di Psikologi. Senior saya bernama Ramadion Syam, biasa dipanggil Dion. Dia bekerja di perusahaan pendidikan bernama Zenius Education di divisi Commerce. Perusahaan startup berkembang, karyawan belum banyak, dan bidangnya pendidikan pula. Saya pun melamar dan diterima.

Januari 2013, saya memulai karir saya di bidang marketing dengan belajar menyusun strategi bisnis untuk  perusahaan pendidikan. Kaku di awal. Namun, Dion membantu saya dalam berbagai hal. Dia mengajarkan berbagai hal baru dan menyemangati saya di saat  ragu dengan kemampuan sendiri. Juga menghibur ketika saya punya masalah pribadi. Seiring waktu Dion pun menjadi atasan, pelawak satir, sekaligus kawan yang suportif.

Pada pertengahan 2013, istri Dion, Mimoy mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi di Tilburg. Mimoy pun pergi, sementara Dion tetap tinggal di Jakarta. Saya tidak menyukai hubungan romantis jarak jauh. Lack of physical existence, Saya tidak bisa membayangkan penghayatan yang dirasakan Dion juga Mimoy. Apa pun rasanya, pasti tidak menyenangkan. Saya sangat berharap mereka bisa berkumpul kembali.

Sebagai gambaran Dion dan Mimoy adalah pasangan yang menggemaskan. Secara fisik perawakan Dion tinggi besar, sementara Mimoy (kalau kata Dion) lebih mungil dari 80% populasi wanita dewasa seumurannya. Selama saya mengenal mereka, hubungan mereka tidak pernah ada drama rumah tangga. Mereka terlihat cukup dewasa dalam menjalani hubungan rumah tangga. Oke, ini sok tahunya saya.

Februari 2014 adalah bulan terakhir sebelum pengunduran diri Dion untuk menyusul Mimoy. Saya merasa sangat gembira, sekaligus sedih. Saya akan kehilangan rekan kerja sekaligus satu teman hura-hura yang biasanya saya temui hari Senin-Jum’at. Tugas kantor mulai beralih menjadi tanggung jawab saya. Nanti saya curhat pagi tentang urusan mau sekolah sama siapa? Kalau mau pamer hal yang tidak begitu penting sama siapa? Kalau mau marah tidak jelas harus mengadu ke siapa?

Ya tapi mau bagaimana lagi. Udeh terima aje.

Maret 2014 adalah bulan dimana saya naik jabatan (tambah kerjaan) menggantikan posisi Dion. Saya pun melihat menempati meja milik Dion. Aneh rasanya.

Pikiran saya kembali ketika awal masuk ke kantor ini. Awal dimana saya merasa tidak perlu ragu untuk berdebat dengan siapa pun selama argumen dan landasan berpikir saya rasional. Tidak ada menang atau kalah. Saya bisa bercanda mengenai hal yang SARA atau hal yang cabul tanpa takut pendapat orang lain pada saya. Dimana orang-orang menerima ketidakyakinan saya, terlepas dari apapun latar belakang kepercayaan saya. Di lain sisi orang-orang juga perhatian kalau saya tidak masuk, merasa marah atau tersinggung, atau terlihat lelah.

Kehidupan kantor dengan kegiatan bermain bersamanya sangat menyenangkan. Setahun kemarin, saya sudah belajar main Mahjong (iya yang dari China itu), main truf, mencoba ballet, hingga ikut latihan Muay Thai. Semua orang di kantor ini gila. Kegilaannya dalam tahap yang menyenangkan.

Semua kebahagiaan ini berawal dari tawaran Dion untuk bergabung di kantor. Pasti akan ada saat saya akan merindukan Dion, sementara Dion akan sibuk bermesraan dengan Mimoy dan proyek Ruang Psikologinya. Tujuan utama Ruang Psikologi sangat mulia, yaitu untuk mensosialisasikan ilmu psikologi dan manfaatnya dalam kemasan yang mudah cerna. Saya (dan juga teman-teman lain) sangat mendukung pilihan Dion, semoga dia bisa besar bersama Ruang Psikologi.

Terima kasih atas kerja samanya, Dion!